Minggu, 22 November 2015

Pengalaman adalah Guru Terbaik

Oleh : Tila Paulina S.Pd.

Beberapa pertanyaan yang sering sekali muncul di Sekolah Alam Se-Indonesia hampir semua sama.
Kenapa sekolah alam banyak mainnya?
Kenapa jarang dikasih PR?
Kenapa pulang sekolah kotor?
Kenapa seolah-olah anak kami gak belajar?
Kenapa gak ada rangking?
Kenapa gak membanggakan hasil angka?
Anak saya belajar gak siihhhhh!!!!
Kenapa, kenapa, dan kenapa?
Belajar lagi belajar lagi !!!
Jika pertanyaan muncul kepada saya.
Maka saya akan balik bertanya
Kenapa kita begitu peduli terhadap nilai angka?
Kenapa kita hanya milihat angka yang tergores dalam kertas?
Kenapa kita tak melihat perubahan karakter anak?
Apakah anak kita robot mengikuti semua mau kita?
Apakah anak kita harus menguasai semua pelajaran, sedangkan belajar dari pengalaman kita pun tak menguasai semua?
Penting mana akhlaq atau secarik kertas?
Apakah ketika ia bekerja ditanya berapa nilai UAS,UAN?(mungkin sekrang ia tapi 10 atau15 tahun lagi apa masih)
Nilai-nilai dalam kertas mungkin dalam 15 tahun kedepan tak terpakai lagi melihat persaingan dunia amat ketat tak punya skill dan tak punya fisik tangguh akan terhempas.
nilai-nilai fantastis tak akan orang tengok lagi, mana mungkin orang menilainya hanya dari angka.
APAKAH MUNGKIN ORANG AKAN MENGHARGAINYA KARNA NILAI 100 tapi ia tak pandai menghargai orang lain, buang sampah sembarangan, tak tau budaya antri, tak peduli terhadap alam, tak bermental tangguh dan tak cerdas.
Mulailah membuka diri kita agar lebih luas dalam berfikir,,bahwa anak tak cukup hanya dengan nilai fantasis atau pintar mereka harus cerdas bukan pintar, punya etika, taat pada Pencipta, mencintai Rasulullah, menjaga alam, fisik tangguh, bermental baja ini proses panjang butuh ekstra pikiran dalam menjalankan takkan cukup 1-5 tahun tapi bertahun-tahun baru akan terasa hasilnya.
Anak adalah anugerah terindah biarkan mereka berproses sesuai fase umurnya.
Ketika anak usia 6-10 tahun, mereka bermain dan belajar. Ketika berusia 11-17 tahun belajar dan bermain. Kesimpulannya anak semakin bertambah umur akan mulai memahami dan mengerti akan proses dalam belajar.
Jangan paksa mereka baru kelas 1 sudah disuguhkan buku seberat 3kg, tak terbayangkan ada 8 pelajaran wajib, dll (saya sebagai orang dewasa tak akan sanggup).
Belajarlah ilmu gelas jika diisi perlahan maka kita akan tau batas penuhnya, jika kita mengisi langsung penuh maka akan tumpah ruah tak jelas.
Jangan takut mereka tertinggal inshaAllah proses yang baik ikhtiar maksimal akan berbuah manis
Bahkan seorang ilmuan hebat sekalipun ia tak akan mampu menguasai semua bidang dan ia pasti merasakan gagal berkali-kali (jika anak tak bermental baja bayangkan ia akan stres bukan main ketika gagal)
SO biarkan anak menemukan bakatnya sedari kecil ia tak akan tau tanpa MENCOBA / BEREKSPERIMEN berbagai hal baru (disinilah ia akan menemukan PASSION nya).
Sekarang coba kita tengok pendidikan di Jepang mereka bertahun-tahun sekolah hanya untuk belajar tentang kehidupan contoh membersihkan toilet, budaya antri, peraturan dikendaraan,kejujuran, dll setelah itu baru mereka melatih kecerdasan itu pun mereka tak dituntut menguasai semua.
MASIHKAH kita berfikir ANGKA segalanya.
Belajar menyeimbangkan antara KECERDASAN INTELEKTUAL DENGAN KARAKTER.
InsyaAllah bisa saling beriringan.
Ikuti ajaran Rasulullah beliau amat sabar dalam melakukan dakwah pada para sahabat butuh proses panjang tapi lihat hasilnya mereka lahir menjadi para pemimpin BERKARAKTER dan ahli pada bidangnya sekali lagi para sahabat Rasul pun tak menguasai semua ilmu tapi mereka menjadi AHLI ILMU (buku Muhammad teladanku).
Terus berproses menjadi fasilitator/Orangtua yg hebat, Insyaallah atas izin Allah SWT akan terlahir generasi HEBAT (Hafal Quran, Excellent dalam Passion-nya, Berahlaq, Teratur hidupnya).
Inshaallah tahun 2023 akan lahir PEMIMPIN MUDA PENUH KARYA....

(jr)

0 komentar:

Posting Komentar